Batik dianggap lebih dari sekadar buah akal budi masyarakat Indonesia. Karena sudah menjadi identitas bangsa, melalui ukiran simbol nan unik, warna menawan, dan rancangan tiada dua. Disebutkan dalam situs UNESCO, batik juga berisi kumpulan pola yang mencerminkan berbagai pengaruh bangsa lain. Mulai dari kaligrafi Arab, buket Eropa, burung phoenix China, dan burung merak Persia.
Saat ini batik sudah digunakan dan dipakai bukan hanya pada saat ada kegiatan atau pesta adat, tetapi sudah dipakai dalam forum-forum formal. Mulai dari anak-anak hinga dewasa semuanya semakin nyaman mengenakan batik disetiap rutinitasnya. Batik sebagai Syal atau Scarf memberi performa tersendiri bagi yang mengenakannya. Pada masa awal solo backpacking, selembar syal batik dikenakan di leher untuk menujukkan negeri asal.
Batik kerap diwariskan dalam keluarga, dari generasi ke generasi. Namun, keberadaan batik kini dijejali dengan hadirnya batik "asing." Biasanya batik seperti ini berasal dari China dengan harga yang lebih murah. Ancaman lain adalah pengusaha asing yang tak ragu menggelontorkan banyak uang demi mencontoh motif batik Indonesia. Di lain pihak, pengrajin lokal Tanah Air membutuhkan dana karena sulit mengembangkan usaha dengan modal mandiri. Oleh karena itu perhartian pemerintah sebagai pemangku kebijakan sangat diharapkan, karena batik lebih dari sekedar warisan dunia.