Minggu, 22 April 2012

Imperialisme di Negeri Merdeka

Imperialisme atau penjajahan dalam ruang kesadaran banyak orang, dianggap merupakan suatu kondisi masa lalu yang sudah dilewati. Bukankah sejak 17 Agustus 1945, negara kita Indonesia telah merdeka ? Ternyata imperialisme dalam bentuk penjajahan dan penguasaan bangsa penjajah yang telah dilalui oleh bangsa Indonesia hanyalah bagian kecil dari bentuk imperialisme.

Dalam situasi kekinian global, imperialisme tidak hanya berwujud perang untuk saling menguasai atau merebut teritori tertentu, namun imperialisme ternyata hadir dalam berbagai wujud dan penyamaran. Menariknya, imperialisme tersebut meng-ada dalam situasi sosial yang lagi asyik meneguk madu modernitas, kesenangan dan euforia terhadap produk teknologi dan tayangan media, yang tanpa disadari menjadi “musuh dalam selimut”.  

Orang Minahasa pun dalam keasyikannya menikmati kemajuan peradaban tersebut, tanpa sadar telah terkungkung dalam penjajahan zaman yang hadir dalam berbagai wuju dan tanpa sadar sedang dijajah. Instalasi budaya asing semakin menggila menyerang bangunan identitas orang Minahasa. Mampukah Minahasa keluar dari cengkeraman jajahan budaya. Fakta zaman dahulu menunjukan, bangsa yang hidup di Bumi Nusantara ini adalah bangsa yang besar. Demikian juga catatan sejarah menunjukan bahwa Minahasa merupakan salah satu bangsa yang besar dan kaya, bukan saja alamnya tetapi budayanya. Tapi kini, ratusan tahun kemudian, bangsa yang sudah turut mengikrarkan diri menjadi Indonesia ini malah mencapai titik terendahnya.

Kolonialisme memang memegang peranan penting bukan saja menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan, tetapi justru kerusakan yang paling parah terjadi pada aspek budaya yang dimulai dengan stigmatisasi terhadap kultur orisinil bangsa ini. Ketika kebulatan tekad dalam satu wadah Indonesia dicetuskan, model gerakan imperialisme pun semakin menjadi. Bangsa yang pluralistik ini, dibuat homogen untuk mudah dikontrol penguasa yang menjalankan pola sentralistik. Hasilnya adalah budayapun berhasil dikungkung dan di adudomba, terjadilah hegemoni antara budaya sentral dan periferal. Budaya Minahasa pun kena imbasnya.

Dimasa kini ketika kolonialisme angkat kaki dari bumi Indonesia, bukan berarti budaya lokal menjadi merdeka. Mesin-mesin globalisasi tanpa disadari menjadi agen instalasi budaya asing. Identitas pun makin kabur. Tanpa identitas hancurlah bangsa. Dalam konteks Minahasa, fenomena kekaburan dan kekalahan budaya lokal nampak dalam karakter dan perilaku masyarakat di zaman sekarang ini. Sebut saja, - sikap individualisme yang kontras dengan semangat mapalus dan tumou-tou,
- budaya ‘instant’, cari gampang, budaya shortcut atau jalan pintas yang kontras dengan nilai-nilai kerja keras dan sikap sebagai bangsa pejuang.
- Korupsi yang kontras dengan karakter anti papancuri yang mengakar dalam tradisi di hampir semua wanua (desa) tempo dulu.
- Sikap ABS (Asal Bapak Senang), tidak kritis, yang sangat beda dengan karkater para pendahulu bangsa Minahasa yang sangat kritis dan cerdas, yang menjadi keunggulan orang Minahasa sejak dahulu.

Dalam kondisi seperti ini maka usaha yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan gerakan-gerakan kultural / gerakan kebudayaan. Merumuskan sebuah gerakan kebudayaan harus memperhatikan kondisi obyektif lingkungan kebudayaan, yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan eksternal. Minahasa harus mampu merumuskan strategi kebudayaan yang tepat untuk menghadapi imperialisme budaya zaman ini, kalau tidak mau terlindas roda sejarah !

1 Komentar

Unknown 29 Juni 2015 pukul 13.04

Jika Anda membutuhkan Driver Printer, silahkan kunjungi situs http://www.agendriver.com/

Posting Komentar