Sabtu, 09 Maret 2013

Wajah Mahasiswa Hari Ini

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia dan beberapa literarur yang ada, mahasiswa umumnya didefinisikan sebagai orang-orang yang terdaftar di Perguruan Tinggi dan sedang mengikuti kuliah pada semester berjalan. Peran mahasiswa sangatlah berpengaruh terhadap hampir semua bidang kehidupan. Betapa tidak, jika dilirik dari “teori perkembangan”, usia dan lingkungan secara tidak langsung membentuk pribadi dan pola pikir ideal seorang mahasiswa. Tak pernah diragukan, mahasiswa selalu berada dalam barisan perjuangan sejak zaman pra dan pasca kemerdekaan, orde baru serta era reformasi bangsa Indonesia. Hal itu diakui secara wajar bahwa saat itu mahasiswa sangat menyadari peran dan tangung jawabnya. Jika berbicara “saat itu” artinya sesuatu, era atau zaman yang telah pernah terjadi. Permasalahannya kemudian bagaimana kondisi mahasiswa pasca reformasi? Ditengah kemajuan teknologi, tekanan modernisasi, globalisasi dan hantaman berbagai “tawaran” ideologi, sulit digambarkan wajah mahasiswa hari ini jika hanya dalam satu sudut pandang. Marilah bersama mencoba meretas permasalahan dengan melihat beberapa gambaran kehidupan mahasiswa berikut ini.

Adalah Anton (bukan nama asli), dia salah satu mahasiswa dari jutaan mahasiswa di negeri ini,  sedang asik memutar-memutar rokok disela jari-jarinya sambil sesekali menghisapnya lalu menyemburkannya sehingga menjadi bulatan kepulan asap, yang pastinya menambah jumlah polusi udara di Makassar. Anton kala itu sedang menunggu jam mata kuliah kedua, celananya yang robek dengan kaos sudah kusam pula, rambut gondrong ditambah anting dikuping membuat dia lebih mirip preman pasar ketimbang seorang mahasiswa yang menyandang predikat kaum intelektual. Masih mending hari itu Anton mau menunggu lebih lama di depan kelas, kecuali main facebook, twitter, BBM, main game atau apalah yang bisa dilakukan di laptop. Kalau tidak, dia pasti sudah pulang lebih awal dari anak TK atau minimal dia sudah pergi entah kemana kakinya melangkah bersama komunitasnya.

Nah, yang ini namanya Ayu (juga bukan nama sebenarnya). Mahasiswi yang satu ini adalah gadis yang cantik, dandanannya sangat modis dan seksi, membuat para kaum adam yang memandangnya berfantasi. Seperti biasa Ayu dan kawan-kawan se-genk-nya sedang asyik berkumpul di salah satu kantin sudut kampus IAIN, trend kerudung, pakaian, dan asesoris yang sedang update saat ini serta tempat-tempat hangout favorit, biasa menjadi topik diskusi utama mereka. Padahal Ayu dan kawan-kawannya itu mengambil jurusan Tarbiyah Bahasa Inggris, yang jelas tidak pernah berhubungan antara mata kuliah dengan topik bahasan mereka setiap kali bertemu rekan-rekannya.

Lain halnya dengan Akbar (nama samaran), mahasiswa rantau yang barangkali tampak terasing dikalangan mayoritas teman-temannya. Wajar saja, dari penampilannya yang sederhana, tidak menampakkan sebagai seorang pemuda yang “gaul (versi ABG)”. Tetapi ada yang tampak unik darinya, disaat teman-teman kuliahnya menghabiskan waktu di tempat-tempat hangout seperti kafe, PS-an, Akbar justru membagi waktunya untuk mengajar anak-anak jalanan pada salah satu rumah singgah disela-sela rutinitasnya yang padat sebagai mahasiswa dan aktifis kampus.

Sekarang, mari bersama-sama menengok kondisi mahasiswa saat ini melalui ilustrasi diatas Anton dan Ayu menjadi karakter dominan pola pikir mahasiswa, keduanya mewakili entitas kebanyakan mahasiwa saat ini. Itulah realitas mahasiswa. Padahal, mereka adalah kaum intelektual, generasi pembaharu, agen of change, sekaligus kritikus pemerintah yang paling independen. Begitulah kira-kira image yang melekat pada mereka yang menyandang predikat mahasiswa. Begitu hebat kaum itu sehingga icon kampus, tempat mereka belajar, selalu diidentikan dengan komunitas perubahan. Karena memang catatan sejarah telah mengukir para mantan mahasiswa yang telah mengoptimalkan fungsi dan perannya dengan baik, tapi kini....? Ditengah kurungan kemajuan teknologi serta modernisasi peradaban yang menamakan diri sebagai globaliasasi, figur-figur pemuda/mahasiswa dalam dunia tanpa batas ternyata lebih mudah membentuk pribadi-pribadi konsumtif pada segala hal. Mahasiswa sekarang seakan kehilangan identitasnya, sikap ramah dan rasa sosial yang tinggi yang pernah dimiliki pemuda bangsa ini yang notabene adalah bangsa timur mulai hilang dan berganti dengan sikap apatis, individualistik dan tidak jarang anarkis (tawuran).

Keadaan mahasiswa yang seperti ini pastinya berimbas pada kualitas output sumber daya manusia (SDM). Bahkan kenyataanya kini, banyak sarjana yang justru menjadi pengangguran dan luntang-lantung tidak jelas. Mereka kurang memiliki life skill, akibat membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia ketika masa kuliah dahulu. Singkatnya, Negeri ini sedang sakit. Lahirnya generasi baru dengan kualitas SDM yang baik adalah salah satu obat penawar rasa sakit tersebut, dan obat itu juga salah satunya ada pada kita, para mahasiswa. Dengan demikian, maka sudah saatnya kalian, para mahasiswa yang kebanyakan seperti Anton dan Ayu untuk melakukan introspeksi, membenahi sikapnya yang kurang pantas dilakukan oleh mereka selaku mahasiswa. Sebelum semuanya terlambat, sebelum segalannya berubah menjadi penyesalan Syukurlah masih ada sebagian mahasiswa, meski “minoritas” layaknya Akbar seperti pada ilustrasi di atas. Mereka masih sadar akan fungsi dan tangungjawabnya sebagai mahasiswa dan manusia. Yang masih peduli dan mau berbagi ilmu kepada mereka yang kurang beruntung. Hidup Mahasiswa!!!

4 Komentar

Unknown 12 April 2013 pukul 22.20

woke sippp...

Aksa 23 Juli 2013 pukul 12.16

Indra: terima kasih dah jalan2 di sipakatau, salam blogger..... :)

Unknown 29 Juni 2015 pukul 12.57

Ha ha ha keren artikelnya gan, saya suka.
Jika Anda membutuhkan Driver Printer, silahkan kunjungi situs http://www.agendriver.com/

Andi 2 April 2016 pukul 10.47

Pengobatan Sipilis Secara Alami ? Segera Hubungi Kami Dan Pesan Obatnya Sekarang Juga di Fast Respond : 087705015423 PIN : 207C6F18.

Posting Komentar